Bahasa Hati
Penting Interaksi yang (Sepertinya) Ngga Penting
Bahasa hati adalah preferensi emosional yang dimiliki setiap orang dalam menerima dan memberikan kasih sayang. Ia juga dapat dimaknai sebagai media komunikasi yang menumbuhkan dan mengeratkan ikatan batin antar-individu.
Wujud bahasa hati sangat beragam: mulai dari untaian kata pujian yang mencakup segala bentuk apresiasi dan panggilan nama kesayangan, pemberian hadiah tanpa memandang besar-kecilnya nilai nominal, hingga pengorbanan seseorang atas sesuatu yang berharga baginya demi orang lain.
Bila kita merujuk pada qudwah terbaik umat manusia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, akan kita dapati betapa banyak bahasa hati yang beliau ungkapkan dan wujudkan kepada orang-orang di sekitarnya—baik dari kalangan para sahabat maupun dari kalangan kaum musyrikin dan orang-orang kafir.
Allah ta’ala sendiri memuji keluhuran akhlak beliau dalam firman-Nya:
> “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Kelembutan sikap tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, lahir dari rahmat Allah yang dianugerahkan kepada beliau:
> “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Beragam ungkapan pujian dan panggilan indah beliau tujukan kepada istri dan para sahabatnya. Beliau senantiasa memberi hadiah kepada orang lain dan tidak pernah menolak permintaan bila diminta. Beliau pun menghadirkan pelayanan langsung kepada istri dan orang-orang terdekatnya. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang selama sepuluh tahun melayani Rasulullah ﷺ, bertutur:
“Aku melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekali pun membentakku, dan tidak pernah bertanya, ‘Mengapa kau lakukan ini?’ atas sesuatu yang kulakukan, atau, ‘Mengapa tidak kau lakukan itu?’ atas sesuatu yang tidak kulakukan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seluruh keseharian beliau, dalam berbagai bentuknya, mencerminkan curahan kasih sayang yang tulus kepada umatnya.
## Bahasa Hati kepada Anak-Anak
Salah satu bahasa hati yang senantiasa beliau curahkan, khususnya kepada anak-anak kecil di sekitarnya, adalah kedekatan dalam komunikasi dan kesediaan untuk bercanda bersama mereka. Beliau berbincang tentang hal-hal yang menjadi keseharian anak-anak tersebut, bahkan bercanda dengan gaya candaan sebagaimana layaknya anak seusia mereka.
Sebagaimana kisah yang masyhur, Rasulullah ﷺ biasa menyapa seorang anak kecil bernama Abu ‘Umair dengan penuh kelembutan, menanyakan kabar burung kecil peliharaannya:
> “Wahai Abu ‘Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung pipit kecil)-mu?” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik)
Anak itu bersedih karena burung kesayangannya telah mati, namun setiap kali bertemu, Rasulullah ﷺ tak lupa menanyakannya—sebuah perhatian kecil yang menunjukkan betapa beliau menghargai apa yang penting di mata seorang anak.
Demikian pula candaan Rasulullah ﷺ kepada Mahmud bin Rabi‘ radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih berusia lima tahun. Mahmud mengenang peristiwa itu hingga dewasa:
> “Aku masih ingat, Rasulullah ﷺ menciprati wajahku dengan seciduk air dari sebuah ember di rumah kami, ketika aku berusia lima tahun.” (HR. Bukhari)
Kenangan itu begitu membekas sehingga tetap diingat dan diriwayatkan oleh Mahmud puluhan tahun kemudian.
## Bukan Aktivitas yang Sia-Sia
Sekilas, aktivitas semacam ini tampak tidak penting. Bila dilakukan kepada orang dewasa, besar kemungkinan justru akan menimbulkan penilaian buruk terhadap adab pelakunya. Namun di sisi lain, kita meyakini bahwa tidak ada satu pun aktivitas Rasulullah ﷺ yang tanpa hikmah dan tanpa menjadi teladan bagi umatnya. Meski beliau adalah pemimpin tertinggi umat Islam, kedudukan itu tidak menghalangi kehangatan interaksi beliau dengan anak-anak kecil.
Aktivitas semacam ini mungkin terasa remeh bagi kita orang dewasa, dan pembicaraannya boleh jadi terdengar sepele. Namun bila hal itu selaras dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh ananda, maka ia akan bermakna besar bagi mereka. Pada akhirnya, dengan izin Ar-Rahman, interaksi-interaksi kecil semacam inilah yang berpotensi menghadirkan ikatan hati yang kokoh antara ananda dan diri kita.
Wallahu a’lam.
—–
karakternabawiyah.com